Halaman

Photobucket

MY NAME IS FARHAN

Farhan keluar gedung dengan muka berseri-seri. "Wih, gila tuh Shahrukh Khan! Keren abis!" Farhan berdiri di trotoar dan menatap salah satu mall besar di daerah Thamrin.

"Lebai lu, ah!" Adul menarik kaos Farhan. "Cepetan pulang, gue capek nih!"

"Lu nggak bisa menghargai film ya?" kata Farhan sambil memberikan tatapan dingin ke Adul. Panas matahari yang masih saja menyengat sore itu tidak membuat Farhan gentar berdiri berlama-lama di trotoar di antara suara-suara klakson mobil yang terdengar.

"Jaelah, lu kenapa sih, Han?" Adul menatap Farhan tak percaya. Farhan, teman satu sekolah dan satu kampungnya jadi aneh setelah nonton film yang menghebohkan itu.

"Ya itu. Filmnya keren. Ceritanya keren. Aktornya keren. Penontonnya nggak kalah keren. My name is FarKHAN! And I am not a terrorist!" Farhan menyeringai lebar.

"Jaahh...!" Adul menepuk jidatnya. Sekarang Adul mulai menyeret Farhan. "Beneran, cepetan pulang. Gue capek. Lagian PR kita banyak. Gue udah temenin lu nonton. Ayo, cepetan pulang!" Adul mulai berjalan ke arah halte bundaran HI dan tangan kanannya menarik paksa kaos Farhan.

***

Farhan menatap cermin sambil tersenyum lebar. Wajahnya, yang kata Emak insya Allah ganteng, terpantul lengkap dengan rambutnya yang keriwil. Disentuhnya rambut keriwil yang selama ini selalu menjadi andalannya untuk deketin cewek tapi tak pernah berhasil itu. Dihukum berapa kali pun sama guru BP sekolah, Farhan tidak pernah mau memotong rambutnya.

Tapi sekarang, demi persaudaraan sesama KHAN, Farhan dengan setulus hati merelakan rambutnya dipotong model Shahrukh Khan. "My name is FarKHAN, and I am not a terrorist." Farhan menyeringai lebar. Kakinya melangkah mantap ke tempat Mang Awhiex, tukang cukur rambut yang cukup tersohor di kampungnya.

"Lu mau ke mane?" Emak memandang Farhan heran. Sejak tadi Farhan sibuk menebar senyum yang tidak jelas untuk siapa.

"Farhan mau potong rambut, Mak. Mohon doa restu ya," kata Farhan takzim sambil mencium tangan kanan Emak.

Emak bingung melihat kelakuan Farhan. Tapi tak urung mata Emak berkaca-kaca,"tentu Farhan. Tentu. Restu Emak selalu menyertaimu, Nak." Bahasa Emak sudah seperti sinetron. Tangan kiri Emak menepuk-nepuk pundak Farhan. Sekarang sudah terjawab dari mana sifat lebai Farhan berasal.

Sepulang dari tempat Mang Awhiex, Farhan tak bisa berhenti tersenyum. Tangannya pun tak bisa berhenti mengelus-elus rambutnya yang sudah terpotong rapi ala Shahrukh Khan. "Tahu gini gue potong dari dulu. Nggak sia-sia, gue jadi tambah ganteng sepuluh kali lipat." Farhan menyempatkan diri mematut di cermin sekali lagi sebelum azan sore itu berkumandang.

"Ah, gue punya ide!" Farhan menjentikkan tangan kanannya di udara. Matanya berbinar-binar.

Farhan cepat-cepat mengambil air wudhu. Lalu lari ke kamar untuk mengambil peci dan sajadahnya yang berwarna biru laut. Emak yang baru saja masuk ke dalam rumah terlihat shock. Emak tidak menyangka Farhan yang sudah ganteng itu ternyata bisa jadi lebih ganteng lagi setelah rambutnya dipotong pendek. Emak lalu mengikuti derap langkah Farhan ke luar rumah.

Farhan berdiri di halaman samping rumahnya. Digelarnya sajadah biru laut itu ke arah kiblat. Dengan sangat khusyuk, Farhan memulai shalat asharnya sore itu. Emak berdiri di dekat pintu sambil memandang anak semata wayangnya dengan penuh sayang. Selain ganteng, Farhan memang selalu bisa dibanggakan. Emak menyusut airmatanya dengan serbet yang dibawanya dari dapur.

***

Malam itu di ruang tamu rumah Farhan duduk lima orang dengan wajah serius. Farhan duduk di sebelah Emak. Wajah gantengnya malam ini terlihat kusut. Wajah Emak terlihat tegang. Wajah Ustadz Syawal terlihat sangat serius.

"Nak Farhan, perbuatanmu tadi tidak dapat dibenarkan!" kalimat Ustadz Syawal langsung menghantam. "Sholat di halaman rumah? Apa nggak riya itu namanya?"

"Maafkan Farhan, Ustadz...," sahut Emak cemas.

"Saya tidak bermaksud riya, Pak Ustadz. Saya hanya ingin seperti film itu. My name is FarKHAN!" sergah Farhan cepat. Judul film yang dia sebut diubah sedikit. Sepertinya Farhan memang mulai takabur. Bagaimana tidak, sekarang judul film pun harus sesuai namanya.

Untung saja Ustadz Syawal jarang menonton film. "Pokoknya jangan diulangi lagi!" kalimatnya terdengar jelas dan tegas. Farhan terlihat ingin membantah lagi. Bagaimana bisa tidak boleh shalat di halaman rumah lagi. Tadi dia memakai peci hitam. Farhan lupa kalau dia punya peci bundar berwarna putih yang sama persis dengan di film itu. Farhan sudah berencana shalat lagi di halaman rumah dengan peci putih itu.

Tangan kanan Emak mencubit paha Farhan. Farhan mengaduh. Karena seumur hidupnya Farhan hanya hidup berdua dengan Emak, Farhan tahu itu tandanya dia disuruh diam, tak boleh lagi membantah apa kata Ustadz Syawal.

"Iya, saya minta maaf, Ustadz," kata Farhan terbata-bata. Hatinya tidak ikhlas meminta maaf pada Ustadz Syawal. Dia merasa tidak bersalah. Tapi demi Emak tersayang, apapun akan Farhan lakukan, termasuk minta maaf ke Ustadz Syawal.

"Ya sudah kalau begitu," Ustadz Syawal berdiri dan melangkah keluar.

Emak dan Farhan mengikuti sampai teras depan. Setelah tamunya pergi, Emak langsung menjewer telinga Farhan. "Lu tega banget bikin Emak malu!" Memang baru kali ini dalam sejarah hidup Farhan, Emak dipermalukan.

"Duh, sakit, Mak!" Farhan meminta ampun. "Sumpah, Mak. Farhan nggak bermaksud riya kok. Farhan cuma pengin ikutin yang di film, Mak."

"Film lagi film lagi. Lain kali enggak bakalan Emak kasih kamu duit buat nonton film!" Emak belum rela melepaskan jewerannya.

"Ampun, Mak. Farhan nggak akan sholat di halaman rumah lagi!" Farhan mencium sebelah tangan Emak.

"Kalau di film itu ada yang bunuh diri, apa lu mau bunuh diri gitu? Hah!" Emak masih saja gusar.

"Enggak, Mak. Sumpah, enggak. Ampun, Mak!" Farhan mengeluarkan jurus pamungkasnya. Isak tangis Farhan mulai memenuhi ruang tamu itu.

"Ya Allah.... Ampuni Farhan...," Emak memohonkan ampun untuk Farhan. Dilepaskan tangannya dari telinga Farhan. Sekarang Emak sibuk mengelus-elus telinga Farhan yang sudah memerah. "Emak sayang kamu, Han. Emak nggak mau kehilangan kamu," kata Emak sembari menangis syahdu.

"Iya, Mak. Farhan nggak ke mana-mana kok..." ucap Farhan sambil bernapas lega.

***

Setelah tragedi itu, Farhan memang menjadi sedikit jinak. Hari-hari dilaluinya secara normal seperti anak-anak SMA lainnya. Pergi ke sekolah bersama Adul. Pulang sekolah bersama Adul lagi. Nge-game bareng Adul. Belajar bareng Adul lagi. Hari-harinya selalu diisi Adul dan Adul. Farhan menggaruk kepala. Hidup seperti itu normal nggak sih buat anak SMA lainnya?

Tapi ternyata Farhan tak pernah menyerah. Di balik sikap jinaknya, Farhan tetap ingin meniru idolanya. Siapa lagi kalau bukan Shahrukh Khan. Bagi Farhan, sudah tidak zamannya lagi nempel poster di dinding kamar. Itu sudah kuno. Kalau benar-benar mengidolakan seseorang, maka apapun yang dilakukan sang Idola harus dilakukannya. Itulah prinsip hidup Farhan sekarang. Dan sudah tidak bisa ditawar-tawar lagi.

Sepanjang akhir pekan, Farhan sibuk memikirkan rencana-rencananya. Emak sampai khawatir karena Farhan tidak keluar kamar selama berjam-jam. Akhirnya, ketika jam berdentang sebelas kali malam minggu itu, Farhan keluar kamar dengan seringaiannya yang selalu lebar. Emak hanya bisa mengelus dada melihat putra kesayangannya yang rupawan.

***

Minggu pagi. Farhan berdiri di depan sebuah gereja tua. Ini adalah salah satu dari sekian banyak rencana yang dia susun tadi malam. Sekarang matanya sibuk mencari-cari. Farhan berjanji, siapapun cewek pertama yang keluar dari dalam gereja nanti, itu pilihannya untuk ditembak jadi pacarnya. Farhan sudah sejak semalam berdoa, semoga cewek itu memenuhi standar kecantikan yang diinginkannya.

Seorang cewek mungil berambut pendek, bermata sipit dan berkulit kuning langsat keluar dari gereja sendirian. Tangan kirinya menenteng sebuah tas jinjing mungil dan tangan kanannya membawa kitab kecil.

Farhan merapikan peci putih bundarnya dengan gugup. Saat cewek mungil itu lewat di depannya, Farhan tak menyia-nyiakan kesempatan itu.

"Neng...," panggil Farhan. Suara Farhan sedikit bergetar.

Cewek itu berhenti dan menatap Farhan. "Ya?"

Keramahan yang ditunjukkan si cewek membuat Farhan jadi tambah bersemangat.

"Sudilah kiranya Neng jadi pacar Abang. Abang tidak mempermasalahkan agama, Neng. Abang juga nggak rasis. Yang penting kita hidup rukun berdampingan," selain suara yang bergetar, airmata Farhan mulai berlinangan. Farhan memang si Raja Lebai.

Cewek itu menatap Farhan. Kali ini tampak seperti ingin menguliti Farhan dari ujung kepala hingga ujung kaki.

"Maksudmu apa sih?" nada suaranya tidak seramah tadi.

"Ya itu, Neng. Sudi kiranya Neng jadi pacar Abang?" ujar Farhan pantang menyerah. "Mau ya, Neng? Abang akan selalu jaga Neng..." Tangan kanan Farhan menyentuh pundak si Kuning Langsat.

Plok! Tas jinjing yang semula diam di tangan kiri sekarang melayang ke wajah Farhan. Cewek itu melenggang pergi, meninggalkan Farhan sendiri.

"Ya Allah..., apa salah dan dosaku...?" Farhan mengelus pipinya yang tampak kemerahan.

***

Minggu malam. Adegan serupa terulang lagi. Dengan tokoh-tokoh yang sama, yaitu Emak, Farhan, dan Ustadz Syawal. Dengan setting tempat yang sama pula, yakni di ruang tamu rumah Farhan. Lagi-lagi Farhan terlihat kusut. Peci putih bundarnya miring ke satu sisi. Emak lebih terlihat frustrasi daripada cemas. Ustadz Syawal menatap Farhan berkali-kali dan berkali-kali pula menggelengkan kepalanya. "Ustadz nggak percaya apa yang dilaporkan Cik Ling Ling tadi siang. Ustadz harap apa yang Ustad dengar tentang kamu itu salah. Tapi ternyata kamu juga mengakuinya," Ustadz menarik napas.

"Saya hanya minta Mei Mei jadi pacar saya, Ustadz. Apa itu salah?" Farhan memberikan tatapan polosnya yang terbaik. Baru tadi sore Farhan tahu cewek yang ditembaknya dengan membabi buta tadi bernama Mei Mei yang adalah anaknya Cik Ling Ling, pengusaha Cina Katolik taat yang dermawan yang sering menyumbang untuk kampung mereka.

"Astagfirullahal adzim!" Ustadz Syawal geleng-geleng lagi. "Istighfar, Farhan.... Istighfar...."

Emak mencubit paha Farhan lagi.

"Kamu sudah tidak bisa dikontrol lagi, Farhan!”

Mata Ustadz melotot. Tampaknya kesabaran Ustadz Syawal tidak begitu banyak malam itu. Dan tampaknya seluruh persediaan kesabaran Ustadz yang berumur enam puluhan itu dihabiskan oleh satu orang saja di kampung mereka, yaitu Farhan Abbas.

"Besok kamu ijin nggak usah sekolah. Kamu ke Serang saja. Pergi ke Rumah Dunia. Temui Gola Gong, dia sahabat Ustadz. Konsultasi bagaimana caranya kamu bisa belajar sama dia. Daripada kamu tambah nggak karuan. Tambah ngaco. Mending kamu belajar menulis di sana. Lumayan kan kalau kamu bisa nulis skenario dan difilmkan." Ustadz Syawal melanjutkan ceramahnya panjang lebar dan tak lupa memberi Farhan peta serta petunjuk untuk ke Serang.

***

"Mak, Farhan pergi ya, Mak." Farhan sekali lagi berlinangan airmata.

"Restu Emak selalu menyertaimu, Nak." Ibu dan anak itu berpelukan. Mereka menangis bersama-sama, seolah-olah Farhan akan dikirim jadi relawan jihad di Palestina dan kemungkinan pulang dalam keadaan segar bugar tipis sekali. Padahal Farhan hanya pergi ke Serang pagi-pagi dan pulang ke Jakarta malamnya. Farhan memang lebai. Emak apalagi. Farhan melambaikan tangannya ke arah Emak yang berdiri sayu di ambang pintu. Dilangkahkan kakinya dengan mantap.

Pikiran Farhan selama perjalanan naik busway dari Harmoni ke Kalideres terus saja berkeliaran. Sebetulnya dia tidak begitu mengerti kenapa dia harus bertemu Gola Gong di Serang. Lebih baik belajar menulis, kata Ustadz? Farhan menggaruk-garuk kepalanya. Kemudian, Farhan menyandarkan kepalanya ke tiang besi di dalam busway. Farhan merasa kelelahan dan sangat mengantuk karena semalaman memikirkan semua kejadian yang menimpanya sejak menonton film itu.

Farhan kecewa kenapa Ustadz Syawal, Mei Mei, bahkan Emaknya tidak bisa mengerti keinginan kuat Farhan untuk meniru Shahrukh Khan di film itu. Sederhana saja, kan? Farhan tidak mengerti kenapa semuanya jadi rumit seperti ini. Keinginan Farhan memang sederhana. Hanya ingin mengalami seperti yang Shahrukh Khan alami di film. Bahkan sampai sekarang Farhan betul-betul ingin mengucapkan kalimat sakti di film itu, "My name is FarKHAN. And I am not a terrorist!"

Farhan turun dari busway dan mencari bus AC jurusan Kalideres-Merak. Di dalam bus Farhan menarik napas lega. Dipilihnya tempat duduk di belakang sopir. Farhan duduk sambil melemparkan pandangan ke luar jendela bus. Seorang perempuan manis berkerudung memandang Farhan dari luar bus. Farhan mempertajam pandangannya. Tidak salah lagi. Perempuan itu melambaikan tangan ke arah Farhan.

Belum sempat Farhan membalas lambaian tangannya, perempuan itu sudah menghilang. Farhan menghela napas. Mungkin dia berhalusinasi. Tapi, tak sampai satu menit, teriakan lantang terdengar di pintu bus.

"Dia teroris! Namanya Hasan! Dia akan mengebom bus ini!" Perempuan manis berkerudung itu terlihat kalap sambil menunjuk Farhan. Farhan panik. Jeritan terdengar di mana-mana. Orang-orang berebutan untuk keluar dari bus.

Farhan ingin menjelaskan bahwa perempuan itu salah. Namanya bukan Hasan. Dia juga bukan teroris. Dengan lantang Farhan berteriak, "My name is FarKHAN! And I am not a terrorist!"

Seorang pedagang salak pondoh berdiri di samping Farhan. Memandang Farhan heran. Lalu, dia berbicara pada sopir bus yang mulai menstarter mesin. "Kenape tuh, Bang? Ngigau ya? Teriak pake basa Inggris segala. Belagu amat!"

Sopir bus memandang Farhan melalui kaca spion di atas. "Mana gue tau. Dateng-dateng langsung duduk trus tidur. Trus teriak. Eh, ngiler juga."

"My name is FarKHAN! And I am not a terrorist!" Farhan berteriak lagi.


copy paste from ANNIDA ONLINE